Unjuk Rasa Ricuh, 10 Mahasiswa Dilarikan ke Rumah Sakit

0
654

Kabargupas.com, BALIKPAPAN – Unjuk rasa puluhan mahasiswa dalam rangka menyuarakan aspirasinya tentang penyelesaian dugaan kasus korupsi Rumah Potong Unggas (RPU) dan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang digelar di DPRD Balikpapan, akhirnya ricuh, Senin (11/02/2019).

Para pengunjuk rasa bentrok dengan aparat kepolisian yang berusaha mengusir mahasiswa dari jalan raya karena memblokir arus lalu lintas hingga kawasan sepanjang depan Kantor DPRD Balikpapan mengalami kemacetan.

Akibat kericuhan ini, sebanyak 10 mahasiswa mengalami luka, enam diantaranya tumbang di lokasi kejadian akibat terkena pukulan aparat kepolisian yang tersulut emosinya saat berusaha mengamankan aksi unjuk rasa.

Kesepuluh mahasiswa yang kena pukulan petugas kepolisian tersebut langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif karena kondisinya cukup kritis. Mereka dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Pertamina Balikpapan.

Unjuk rasa puluhan mahasiswa di DPRD Balikpapan awalnya berjalan lancar dan damai. Namun, karena keinginan mahasiswa bertemu Wali Kota Balikpapan dan Ketua DPRD Balikpapan tidak kesampaian, mereka keluar dari halaman Kantor DPRD Balikpapan berusaha memblokir jalan dengan membakar replika keranda mayat yang sebelumnya dibawa.

Aksi tersebut berhasil dihalangi petugas hingga terjadi kericuhan antara mahasiswa dan petugas kepolisian. Namun, para pengunjuk rasa tetap bersikukuh melakukan pemblokiran jalan hingga arus lalu lintas di kawasan ini mengalami kemacetan yang cukup panjang selama 3 jam lebih.

Upaya mediasi yang dilakukan petugas kepolisian tak juga mendapat tanggapan dari para pengunjuk rasa. Padahal, pejabat dari kepolisian yang dipimpin Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta yang datang menemui pengunjuk rasa bersama Muspida, tidak juga mendapatkan tanggapan mahasiswa. Adapun Muspida yang menemui pengunjuk rasa adalah Dandim 0905 Balikpapan, Danlanal Balikpapan, Danlanud Balikpapan, Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Ketua Komisi 1 DPRD Balikpapan serta sejumlah pejabat Pemkot Balikpapan.

Kericuhan antara mahasiswa dengan petugas kepolisian saat aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa dengan memblokir jalan raya di depan PMI Balikpapan, Senin (11/02/2019).

Sedangkan Wali Kota Balikpapan berada di Kantor DPRD Balikpapan menunggu kehadiran para pengunjuk rasa untuk berdiskusi. Sementara, Ketua DPRD Balikpapan yang sejak awal dinantikan kehadirannya oleh mahasiswa tak juga hadir di lokasi unjuk rasa.

Akibat berlarutnya, penanganan unjuk rasa ini membuat sejumlah petugas kepolisian gerah dan berusaha menghalau para pengunjuk rasa dari tengah jalan raya hingga akhirnya terjadi kericuhan.

Kader GMNI Balikpapan Muhammad Ridwan mengatakan, dirinya tidak mengetahui jika aksi blokir jalan yang dilakukan mahasiswa berakhir ricuh. Pasalnya, saat azan Ashar berkumandang dan sejumlah mahasiswa menunaikan ibadah sholat Ashar, dirinya baru mengetahui jika sudah terjadi kericuhan dan pemukulan oleh aparat kepolisian.

“Kami tidak tahu kalau terjadi ricuh, karena saat ditinggal untuk sholat Ashar aksi unjuk rasa berjalan aman,” kata Ridwan.

Tentunya, tambah Ridwan, aksi pemukulan yang dilakukan petugas kepada pengunjuk rasa semakin mengobarkan semangat para mahasiswa untuk berjuang memperjuangkan hak masyarakat Balikpapan.

“Ada sekitar 10 mahasiswa yang mengalami luka akibat aksi brutal aparat kepolisian dalam aksi unjuk rasa ini. Kesepuluh mahasiswa itu, delapan diantaranya kini dirawat di RS Bhayangkara dan 2 mahasiswa di RS Pertamina,” terangnya.

Lebih lanjut Ridwan menuturkan, pihaknya akan kembali menggelar aksi lanjutan yang akan menurunkan masa yang lebih besar. Hal itu dilakukan karena pada aksi ini, aspirasinya mahasiswa tidak terpenuhi, dan yang terjadi adalah tindakan brutal aparat kepolisian dengan memukul mahasiswa hingga 10 mahasiswa mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Penulis : Ipon
Editor : Nurhayati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here