Wartawan Balikpapan Unjuk Rasa, Desak Polisi Usut Kekerasan di Munajat 212

0
145

Kabarfupas.com, BALIKPAPAN – Aksi solidaritas terhadap jurnalis korban kekerasan dan penganiayaan saat melakukan peliputan kegiatan munajat 212 di Jakarta juga ditunjukkan puluhan wartawan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (04/03/2019).

Sekitar 20 lebih wartawan Kota Minyak dari berbagai media cetak dan elektronik yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Anti Kekerasan Balikpapan ini melakukan unjuk rasa damai di depan Mako Polres Balikpapan Jalan Jenderal Sudirman.

Dengan membawa sejumlah poster bertuliskan kecaman, puluhan wartawan atau jurnalis melakukan unjuk rasa di hadapan puluhan petugas kepolisian. Tak sekadar berunjuk rasa, mereka juga menyampaikan orasinya tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab saat melakukan peliputan.

Dalam aksinya, puluhan wartawan Balikpapan ini menuntut dan mendesak kepolisian mengusut kasus tersebut secara cepat serta menangkap dan menghukum pelaku penganiayaan terhadap jurnalis tersebut sesuai hukum yang berlaku.

Adapun tuntutan puluhan wartawan yang melakukan unjuk rasa adalah kepolisian harus mengungkap kasus itu dan menetapkan tersangkanya.

Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta menemui para pengunjuk rasa di Mako Polres Balikpapan, (04/03/2019).

Wartawan Balikpapan Amir Syarifuddin mengatakan, pihaknya mengecam tindakan kekerasan, intimidasi dan persekusi terhadap jurnalis saat meliput acara Munajat 212.

“Kami berharap intimidasi ini adalah peristiwa terakhir yang dialami jurnalis, serta mendesak aparat kepolisian mengusut tindakan kekerasan tersebut dan segera menangkap pelakunya,” ujar Amir.

Menurut Amir yang juga wartawan senior Balikpapan kontributor Okezone.com dan Inibalikpapan.com, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers belum maksimal. Khususnya Pasal 8 tentang penganiayaan dan intimidasi terhadap pers.

Dia menambahkan, Undang-Undang itu sangat tepat diterapkan dibandingkan dengan pasal 170 yakni penganiayaan secara bersama-sama yang diterapkan pihak kepolisian.

“Menurut kami, Pasal 170 itu tepatnya dijadikan junto-nya. Jadi polisi harus berani terapkan Pasal Undang-Undang pers, karena dalam bekerja pers diatur dengan Undang-Undang pers dan kode etik jurnalistik,” katanya.

Sembari menunggu rekannya untuk menyampaikan aspirasi kepada Kapolres Balikpapan, para wartawan melakukan unjuk rasa di depan Mako Polres Balikpapan Jalan Jenderal Sudirman, Senin (04/03/2019).

Koordinator Aksi Ariansyah, yang juga wartawan KPFM Balikpapan juga mengecam terhadap aksi kekerasan itu. Apa yang dilakukan massa jelas sudah menciderai pers di Indonesia.

Menurut Ariansyah, tindakan tersebut adalah bentuk pelanggaran berat. Apalagi, massa yang melakukan juga memakai simbol dan atribut ormas agama.

“Kami meminta aparat kepolisian bertindak dengan sesegera mungkin menangkap pelaku dan menghukum sesuai undang-undang yang berlaku karena telah mengancam kebebasan berpendapat dan berdemokrasi. Para jurnalis harus bersatu mengawal kasus ini sampai mendapat kepastian dan keadilan hukum,” tambah Ariansyah.

Sementara itu Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta saat menerima pengunjuk rasa berjanji akan menyampaikan aspirasi wartawan kepada yang berwenang.

“Untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan terhadap jurnalis, tentunya kita harus sama-sama saling menghargai. Kami juga mengimbau kepada media dan seluruh komponen yang ada di masyarakat apabila melakukan kegiatan harus sesuai aturan yang berlaku,” kata Wiwin.

Penulis : Ipon
Editor : Nurhayati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here