Tiga Kilogram Sabu dan 1.493 Butir Ekstasi Asal Malaysia Nyaris Beredar di Indonesia

0
286

Kabargupas.com, BALIKPAPAN – Narkoba jenis sabu seberat 3 kilogram (kg) lebih berhasil digagalkan peredarannya oleh jajaran Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kalimantan Timur, Kamis (16/05/2019).

Selain serbuk putih bernilai miliaran rupiah asal negeri Jiran, Malaysia, Ditresnarkoba Polda Kalimantan Timur juga mengamankan narkoba jenis lainya, yakni 1.493 butir pil ekstasi yang dibawa oleh tiga orang tersangka dari Kalimantan Utara yang nyaris beredar di Indonesia.

Rencananya, kedua jenis barang haram ini akan dibawa ke Makassar, Sulawesi Selatan, oleh tersangka bernama Zulkifli (32). Selain Zulkifli, polisi juga mengamankan dua tersangka lainnya yang diduga bagian dari sindikat peredaran narkoba internasional, yakni Muhammad (19) dan Makmur (35).

Direktur Resnarkoba Polda Kaltim, Kombes Pol Akhmad Shaury mengatakan, ketiga tersangka diduga kuat merupakan kurir dari sindikat narkoba internasional yang sangat meresahkan masyarakat.

“Ketiga kurir narkoba jenis sabu-sabu dan pil ekstasi ini sengaja datang ke Tanjung Selor, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, untuk mengambil barang haram yang datang dari negara tetangga Malaysia,” ujar Akhmad Shaury.

Menurutnya, digagalkannya peredaran 3 kg sabu senilai hampir Rp5 miliar dan 1.493 pil ekstasi senilai Rp 746.500.000 (1 butir dijual Rp500 ribu) ini bermula dari laporan masyarakat yang resah akan makin maraknya peredaran narkoba yang berasal dari negara tetangga, Malaysia.

“Tersangka Zulkifli saat diamankan polisi datang hanya untuk mengambil narkoba jenis sabu-sabu seberat 3 kilogram dan pil ekstasi sebanyak 1.493 butir yang sudah dikemas dalam plastik dan disimpan di dalam kardus. Zulkifli dan kedua temannya diamankan di sebuah hotel di kawasan jalan Ayoeb, Rinding, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau,” terang Akhmad Shaury, saat ditemui awak media dalam jumpa pers yang digelar di Gedung Ditresnarkoba Polda Kaltim Jalan Syarifuddin Yoes Balikpapan, Senin (20/05/2019).

“Tidak ada perlawanan dalam penggerebekan terhadap ketiga tersangka. Sementara, dalam penggerebekan ini kami mendapati narkoba sudah tersimpan dalam kardus berwarna coklat diletakkan di bawah meja kamar hotel,” tambahnya.

Dari pengakuan tersangka, Zulkifli, setiap mengambil dan membawa narkoba dari Berau ke Makassar, Sulawesi Selatan mendapat upah sebesar Rp15 juta.

“Sekali kirim paketan narkoba dari Berau ke Makassar mendapatkan upah sebesar Rp15 juta,” kata Zulkifli.

Akhmad Shaury menambahkan, peredaran gelap narkoba berbagai jenis yang terus masuk ke Indonesia ini lantaran para kurir diberi bayaran yang cukup besar, sehingga mereka bersedia membawa barang haram tersebut sampai ketujuan, meski resiko yang dihadapi para kurir narkoba juga cukup tinggi.

Mereka, papar perwira polisi berpangkat melati tiga di pundak ini, juga tidak pernah bertemu dengan orang yang menyuruhnya, hanya berkomunikasi melalui telpon genggam, sehingga polisi sangat kesulitan untuk menangkap para bandarnya.

“Saat ditangkap, kesulitan yang kami hadapi adalah jaringan sindikat narkoba antar negara ini putus di tengah jalan. Para kurir juga tidak mengetahui siapa pemilik barangnya, dan mereka hanya mengantarkan ke suatu lokasi,” pungkasnya.

Penulis : Ipon
Editor : Nurhayati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here