Kastiawan Wijaya Tak Berkutik Ditangkap Aparat Kejari Balikpapan di Surabaya

0
627

Kabargupas.com, BALIKPAPAN – Terpidana kasus pemalsuan sertifikat tanah di Balikpapan, Kastiawan Wijaya tak berkutik ditangkap aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Balikpapan Kalimantan Timur, Kamis (30/07/2020).

Kastiawan Wijaya ditangkap di Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di pinggir jalan depan sebuah panti pijat di kawasan Darmo Permai Selatan, Kelurahan Pradahkali Kendal, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya pada pukul 18.20 WIB.

“Dia berhasil kita diamankan di pinggir jalan depan salah satu panti pijat di kawasan Darmo Permai Selatan, Pradahkali Kendal, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Balikpapan DR Josia Koni,SH MH melalui Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Balikpapan, Aditya Narwanto, SH MH selaku eksekutor.

Menurut Aditya, penangkapan ini juga hasil kerjasama dengan Jaksa Hendro dari Intel Kejari Kabupaten Pasuruan, Ardian staf Intel Kejari Sidoarjo, didampingi oleh anggota Polri Subdit 3 Jatanras Polda Kaltim.

“Terpidana kami amankan saat hendak masuk mobil setelah selesai menikmati layanan pijat di Surabaya dan selanjutnya kami bawa ke Rutan Medaeng Kelas I Surabaya,” terangnya.

Dia menambahkan, ditangkapnya Kastiawan Wijaya karena melanggar pasal 266 ayat 1 KUHP tentang pemberian keterangan palsu dalam suatu akta otentik, juncto pasal 55 ayat 1 KUHP tentang penyertaan dalam tindak pidana.

Terpidana kasus pemalsuan sertifikat tanah, Kastiawan Wijaya (kiri) tak berkutik sesaat ditangkap aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Balikpapan di Surabaya, Kamis (30/07/2020).

“Terpidana ini, sebenarnya sudah diputus 2 tahun penjara berdasarkan putusan MA No. 331/K/PID/2020 tanggal 27 Mei 2020 dan telah berkekuatan hukum tetap (inkracht) per tanggal 11 Juni 2020,” jelas Aditya.

Kronologi kasus yang menjerat Kastiawan, ujar Aditya, ketika terpidana Kastiawan Wijaya bersama istrinya melakukan pengajuan permohonan penggantian sertifikat ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Balikpapan (pengajuan seritifikat yang dipalsukan), sedangkan sertifikat asli masih berada di tangan pelapor yang juga teman bisnisnya, Liau Edwin, yang sebelumnya sertifikat tersebut dijadikan jaminan bisnis.

“Singkat cerita, akhirnya sertifikat keluar dari BPN Balikpapan (sertifikat pengganti), namun PTUN sempat memutuskan pembatalan sertifikat pengganti tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, tambah Aditya, sertifikat yang dikeluarkan BPN Balikpapan, salah satunya ada syarat putusan perdata yang mewajibkan Liau Edwin membayar uang konsinyasi kepada Kastiawan Wijaya, dan tidak ada dalam putusan perdata masalah sertifikat, namun oleh terdakwa diajukkan juga sebagai syarat pembuatan sertifikat baru.

“Fakta lain dalam persidangan, BPN Balikpapan mengakui pihaknya teledor dan baru mengetahui isi dari putusan perdata tersebut di persidangan,” tutupnya.

Penulis: Ipon
Editor: Nurhayati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here