by

Rayakan Galungan, Umat Hindu Balikpapan Gelar Persembahyangan di Pura Giri Jaya Natha

Kabargupas.com, BALIKPAPAN – Persembahyangan atau ibadah Hari Raya Galungan digelar umat Hindu Kota Balikpapan di Pura Giri Jaya Natha Jalan Hendriawan Sie Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, Rabu (10/11/2021).

Persembahyangan berlangsung khidmat dihadiri  sekitar 200 umat Hindu se-Kota Balikpapan dan dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Prabawa Nandagiri.

Ketua PHDI Kota Balikpapan Nengah Kayun mengatakan, makna Hari Raya Galungan yang dirayakan oleh umat Hindu setiap 6 bulan Bali (210 hari) yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).

Suasana persembahyangan di Pura Giri Jaya Natha dalam rangka Hari Raya Galungan yang digelar umat Hindu Balikpapan, pagi tadi.

“Perayaan Hari Raya Galungan identik dengan penjor yang dipasang di tepi jalan, menghiasi jalan raya yang bernuansa alami (Penjor adalah bambu yang dihias sedemikian rupa sesuai tradisi masyarakat Bali setempat),” kata Nengah Kayun.

Arti kata Galungan, tambah Nengah, diambil dari bahasa Jawa kuno yang berarti “bertarung”. Biasa disebut juga “dungulan” yang artinya menang. Perbedaan penyebutan Wuku Galungan (di Jawa) dengan Wuku Dungulan (di Bali) adalah sama artinya, yakni wuku yang kesebelas.

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, ujarnya, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804.

Pura Giri Jaya Natha jadi tempat persembahyangan umat Hindu Balikpapan dalam perayaan Hari Raya Galungan.

Lontar tersebut berbunyi “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.” Artinya, “Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.”

“Lontar sendiri bisa disebut ibarat pustaka suci (yang disucikan) / kitab pedoman dan disimpan oleh umat Hindu. Galungan dan Kuningan dirayakan sebanyak dua kali dalam setahun kalender Masehi (kalender yang biasa kita pakai). Jarak antara Galungan dan Kuningan sendiri ialah 10 hari,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nengah menjelaskan, perhitungan perayaan kedua hari raya tersebut berdasarkan kalender Bali. Galungan setiap hari Rabu pada wuku Dungulan. Sementara Kuningan setiap hari Sabtu pada wuku Kuningan. Di tahun 2021, Galungan dirayakan pada 10 November 2021, dan Kuningan akan dirayakan pada 20 November 2021.

“Umat Hindu di Balikpapan merayakan Galungan dengan bersembahyang di Pura Giri Jaya Natha Jalan Hendrawan Sie, Balikpapan Tengah dan Pura Prajapati Km 15 Karang Joang, Jalan Soerkano Hatta, Balikpapan Utara,” tuturnya.

Penyerahan bantuan secara simbolis oleh panitia kegiatan kepada warga yang membutuhkan.

Secara filosofis, Hari Raya Galungan dimaksudkan agar umat Hindu mampu membedakan dorongan hidup antara adharma dan budhi atma (dharma = kebenaran) di dalam diri manusia itu sendiri. Kebahagiaan bisa diraih tatkala memiliki kemampuan untuk menguasai kebenaran. Dilihat dari sisi upacara, adalah sebagai momen umat Hindu untuk mengingatkan baik secara spiritual maupun ritual agar selalu melawan adharma dan menegakkan dharma.

“Bisa disimpulkan bahwa inti Galungan ialah menyatukan kekuatan rohani agar umat Hindu mendapat pendirian serta pikiran yang terang, yang merupakan wujud dharma dalam diri manusia,” kata Nengah.

Kesimpulannya, ujar Nengah, hakikat Galungan adalah perayaan menangnya dharma melawan adharma. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

Panitia kegiatan foto bareng Ketua PHDI Kota Balikpapan Bpk. Nengah Kayun dalam perayaan Hari Raya Galungan di Pura Giri Jaya Natha Balikpapan.

“Pada hari Jumat Wage Kuningan yang juga disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama sebenarnya tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan pada hari ini, hanya berupa anjuran untuk melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah pikiran yang buruk/kotor),” tutupnya.

Adapun rangkaian ibadah Hari Raya Galungan:
– Persiapan
– Puja Trisandya
– Kramaning Sembah
– Nunas Tirta
– Acara protokoler :
* Laporan Ketua Panitia
* Sambutan Ketua PHDI Kota Balikpapan Bpk. Nengah Kayun
* Darmawacana yang dibawakan oleh Mangku Wayan Giri.
* Penyerahan dana sosial untuk warga hindu yang sedang sakit.

Penulis: Ipon
Editor: Nurhayati

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed