Oleh: Hery Sunaryo SH. MH
– Ketua DKM Masjid Nur Hidayah Pandan Sari Balikpapan –
Assalamualaikum Wr Wb
Hati sebenarnya bukan sekadar segumpal daging yang berdetak di balik tulang rusuk, namun ia adalah singgasana suci bagi ruh yang menentukan apakah kita benar-benar hidup atau hanya sekadar ada di muka bumi ini.
Sebagaimana hakikat yang sering kita lupakan bahwa telinga yang mendengar sesungguhnya yang mendengar adalah hati dan mata yang melihat hakikatnya yang melihat adalah hati serta mulut yang berbicara pun hakikatnya adalah gambaran cerminan hati.
Hubungan ini menjadi cermin bagi kesucian ruh karena jika jendela-jendela indera itu tidak dijaga dengan baik maka kotoran akan masuk dan merusak istana di dalamnya. Rasululloh Saw dalam riwayat Bukhari dan Muslim telah memberikan peringatan yg sangat lembut namun menghujam sanubari bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging yang jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya namun jika ia rusak maka rusak seluruh kehidupannya.
Matinya hati adalah tragedi paling sunyi yang bisa menimpa seorang hamba karena ia membuat seseorang tetap bernapas namun kehilangan arah dan jalan pulang menuju Sang Pencipta. Allah SWT berbisik dengan penuh haru sekaligus tegas dalam Surah Al-Hajj ayat 46, bahwa sebenarnya bukan mata di wajahmu yang buta melainkan hati yang ada di dalam dadamu.
Ketajaman penglihatan fisikmu sama sekali tidak akan ada harganya jika mata batinmu telah tertutup oleh hijab dosa yang tebal. Begitu pula lisan yang tajam dan kasar sesungguhnya hanyalah cermin dari busuknya apa yang tersimpan di dalam hati, sebab mulut hanyalah penyambung lidah dari apa yang memenuhi ruang hati kita.
Setiap kemaksiatan yang dilakukan oleh indera kita adalah tetesan tinta hitam yang perlahan mencekik cahaya ruh kita, hingga ia padam. Dalam Al Qur’an surah Al-Mutaffifin ayat 14 Alloh Swt menyatakan dengan sangat mendalam bahwa perbuatan manusia itu sendiri yang telah menutupi hati mereka dengan karat yang menghitam atau yang disebut sebagai Ar-Raan. Karat inilah yang memaksa hati menjadi tuli terhadap kebenaran dan buta terhadap cahaya hidayah hingga ruhmu terpenjara dalam kegelapan yang pekat.
Ketika hati telah mati maka tidak akan ada lagi getaran lembut saat nama Tuhanmu disebut dan tidak ada lagi air mata yang jatuh karena penyesalan yang tulus. Sadarilah dengan penuh kesadaran bahwa hati adalah hakikat dari ruhmu yang seharusnya menjadi penghubung abadi antara makhluk dan sang Kholik. Jika mata telinga dan mulutmu tidak lagi digunakan untuk memetik kebaikan maka itu adalah vonis bahwa ruhmu sedang sekarat di dalam cangkang tubuh yang fana ini.
Hidupkanlah kembali hati yang gersang itu dengan sentuhan tobat dan dzikir sebelum pintu waktu benar-benar tertutup selamanya oleh maut. Manusia tanpa hati yang hidup hanyalah seonggok jasad yang berjalan tanpa arah di atas bumi namun ia telah kehilangan hakikat surga yang seharusnya sudah ia rasakan di dalam hatinya sendiri. (*)











Comment