by

Peringati Hari Lahir Pancasila, Wali Kota Balikpapan Pimpin Upacara

Kabargupas.com, BALIKPAPAN – Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 juga digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Senin (1/6/2026). Upacara yang dipimpin Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud ini juga dirangkai dengan pembagian bendera merah putih secara simbolis.

Sebanyak 7.000 bendera merah putih, mulai bendera berukuran kecil hingga besar dibagikan kepada pengendara kendaraan yang melintas di depan Kantor Wali Kota Balikpapan. Tak hanya Rahmad Mas’ud, bendera juga dibagikan oleh pejabat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), diantaranya Wakil Ketua DPRD, Kepala Kejaksaan, Pengadilan, serta lainnya.

Pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini, Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud membacakan teks Amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Dalam pidatonya, Rahmad mengatakan, bahwa Pancasila merupakan hasil dari satu kesatuan proses yang dimulai dengan rumusan Pancasila tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan Ir. Sukarno, Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, dan rumusan final Pancasila tanggal 18 Agustus 1945. Adalah jiwa besar para founding fathers, para ulama dan pejuang kemerdekaan dari seluruh pelosok Nusantara sehingga kita bisa membangun kesepakatan bangsa yang mempersatukan kita.

“Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah juga keberagaman. Berbagai etnis, bahasa, adat istiadat, agama, kepercayaan dan golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah ke-bhinneka tunggal ika-an kita,” kata Rahmad.

Namun, jelas Rahmad, kehidupan berbangsa dan bernegara sedang mengalami tantangan. Kebinekaan sedang diuji. Saat ini ada pandangan dan tindakan yang mengancam kebinekaan dan keikaan. Saat ini ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologi selain Pancasila. Masalah ini, lanjutnya, semakin mencemaskan tatkala diperparah oleh penyalahgunaan media sosial yang banyak menggaungkan hoax alias kabar bohong.

“Kita perlu belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme, konflik sosial, terorisme dan perang saudara. Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, kita bisa terhindar dari masalah tersebut,” katanya.

“Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk memajukan negeri. Dengan Pancasila, Indonesia adalah harapan dan rujukan masyarakat internasional untuk membangun dunia yang damai, adil dan makmur di tengah kemajemukan,” sambung Rahmad.

Oleh karena itu, tambah Rahmad, dirinya mengajak peran aktif para ulama, ustadz, pendeta, pastor, bhiksu, pedanda, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk menjaga Pancasila.

Pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus terus ditingkatkan. Ceramah keagamaan, materi pendidikan, fokus pemberitaan dan perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

“Komitmen pemerintah untuk penguatan Pancasila sudah jelas dan sangat kuat. Berbagai upaya terus kita lakukan. Telah diundangkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila,” katanya.

“Bersama seluruh komponen bangsa, lembaga baru ini ditugaskan untuk memperkuat pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, yang terintegrasi dengan program-program pembangunan. Pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan dan berbagai program lainnya, menjadi bagian integral dari pengamalan nilai-nilai Pancasila,” tandas Rahmad.

Lebih lanjut, kata Rahmad, tidak ada pilihan lain kecuali harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila. Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan.

“Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong dan toleran. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan Indonesia bangsa yang adil, makmur dan bermartabat di mata internasional,” tutupnya.

Poniran | Nur

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed