by

Mengapa Al-Qur’an Selalu Mengaitkan Ketakwaan dengan Aspek Sosial?

Oleh: Hery Sunaryo
Ketua Umum DKM Masjid Nur Hidayah, Pandansari Balikpapan.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kabargupas.com, BALIKPAPAN – Ketakwaan sering kali dipahami sebagai urusan pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya, sebuah hubungan vertikal yang diukur dari seberapa rajin ia salat, berpuasa, atau berzikir. Namun, jika kita menelusuri Al-Qur’an lebih dalam, akan kita temukan pola yang jelas, ketakwaan sejati selalu dikaitkan dengan aspek sosial.

“Al-Qur’an menegaskan bahwa keimanan yang sesungguhnya tidak akan lengkap tanpa manifestasi nyata dalam kepedulian terhadap sesama manusia,” kata Hery, Jum’at (08/8/2025).

Mengapa Al-Qur’an menekankan hubungan erat ini, terang Hery, jawabannya terletak pada tiga aspek utama yang menjadi pondasi ajaran Islam.

1. Ketakwaan adalah Ujian Akhlak dan Perilaku Nyata:
Al-Qur’an mengajarkan bahwa ibadah ritual bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membentuk pribadi yang mulia. Ketakwaan menjadi ujian sesungguhnya ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain.

Sangat mudah untuk terlihat saleh saat sendirian, tetapi apakah ketakwaan itu tetap kokoh saat berhadapan dengan godaan dunia? Beberapa ayat Al-Qur’an secara eksplisit mengkritik mereka yang ibadahnya kosong dari kepedulian sosial.

Surah Al-Ma’un adalah contoh paling gamblang. Allah mengancam “celaka” bagi orang yang salatnya lalai, tetapi sebelum itu, Dia terlebih dahulu menyebutkan ciri-ciri pendusta agama, mereka yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Ini menunjukkan bahwa ibadah tanpa empati sosial adalah ibadah yang kering dan tidak bernilai di sisi Allah SWT. Ketakwaan sejati termanifestasi dalam tindakan-tindakan nyata semisal dengan memberi makan, menolong, dan berlaku adil.

2. Ketakwaan adalah pondasi masyarakat yang adil:
Tujuan utama Al-Qur’an adalah membangun masyarakat yang damai dan berkeadilan. Ketakwaan yang berorientasi sosial adalah kunci untuk mewujudkan masyarakat ideal. Al-Qur’an sering kali menyandingkan perintah bertakwa dengan perintah untuk berlaku adil, jujur, dan menjaga hak orang lain.

Contohnya dapat kita lihat dalam Surah Al-Maidah ayat 8, Alloh berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Ayat ini menegaskan bahwa keadilan bukanlah sekadar norma hukum, melainkan sebuah manifestasi dari ketakwaan itu sendiri. Seorang yang bertakwa akan senantiasa berusaha menegakkan keadilan, bahkan terhadap orang yang ia benci.

Demikian pula, perintah untuk menunaikan zakat dan sedekah adalah wujud nyata dari upaya Islam untuk mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan sistem ekonomi yang adil.

3. Ketakwaan adalah Wujud Rahmatan lil ‘Alamin:
Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), bukan hanya untuk umat Islam atau segelintir individu. Ketakwaan yang hanya berpusat pada diri sendiri tidak akan mampu mewujudkan tujuan mulia ini.

Ketakwaan yang sejati mendorong seorang Muslim untuk menjadi agen kebaikan di masyarakat, menyebarkan manfaat dan kasih sayang kepada semua makhluk.

Surah Al-Baqarah ayat 177, yang sering disebut sebagai ayat “al-Birr” (kebajikan), memberikan definisi ketakwaan yang paling komprehensif. Setelah menyebutkan rukun iman, ayat ini langsung mengaitkannya dengan amal sosial, memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan musafir.

Ini menunjukkan bahwa keimanan dan ketakwaan tidak akan sempurna tanpa kepedulian sosial. Dengan menolong sesama, seorang muslim tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi duta rahmat-Nya di muka bumi.

Pada akhirnya, Al-Qur’an mengaitkan ketakwaan dengan aspek sosial untuk mengingatkan kita bahwa Islam adalah agama yang utuh. Ia menuntut keseimbangan antara hubungan vertikal (dengan Allah SWT, red) dan hubungan horizontal (dengan sesama manusia, red).

“Ketakwaan sejati adalah ketakwaan yang membuahkan akhlak mulia dan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Ibadah yang kita lakukan akan menjadi sia-sia jika tidak menghasilkan kepekaan sosial dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain,” ujar Hery.

“Dengan memahami hal ini, kita dapat menjadi pribadi yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga bermanfaat bagi seluruh alam,” tutupnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed